Misteri Pengetahuan Kedokteran Gigi

kasus infeksi gusi pada mumi-mumi agung

Misteri Pengetahuan Kedokteran Gigi
I

Pernahkah kita terbangun di tengah malam karena sakit gigi yang berdenyut hebat? Rasa ngilunya menjalar sampai ke kepala. Otak rasanya tidak bisa diajak berpikir jernih. Di saat seperti itu, kita mungkin merasa jadi manusia paling menderita di dunia. Tapi tahukah teman-teman, rasa sakit yang sama persis pernah menumbangkan manusia-manusia paling berkuasa dalam sejarah. Bayangkan seorang raja besar, yang disembah bak dewa, memerintahkan pembangunan monumen raksasa, namun malamnya menangis kesakitan memegangi rahangnya. Begitulah kenyataan ironis yang saya temukan saat membaca laporan otopsi dari mumi-mumi agung Mesir Kuno. Firaun-firaun yang namanya menggema menembus zaman, ternyata menyimpan penderitaan luar biasa di dalam rongga mulut mereka.

II

Fakta ini sebenarnya sangat aneh kalau kita pikir-pikir lagi. Mesir Kuno adalah peradaban yang luar biasa maju. Mereka punya ahli matematika yang membangun piramida dengan presisi tinggi. Mereka menguasai ilmu anatomi lewat praktik mumifikasi. Bahkan, sejarah mencatat adanya spesialis medis pada masa itu, termasuk dokter mata dan ahli pencernaan. Namun, ketika para ahli paleopatologi modern melakukan pemindaian CT scan pada tengkorak firaun seperti Amenhotep III atau Hatshepsut, mereka menemukan sebuah tragedi medis. Mulut para penguasa ini penuh dengan lubang menganga, tulang rahang yang keropos, dan tanda-tanda infeksi gusi purba yang sangat parah. Bagaimana mungkin peradaban yang bisa mengawetkan tubuh manusia untuk keabadian, justru gagal menyelamatkan gigi raja mereka sendiri?

III

Pertanyaan ini membuat saya merenung dan membuka sebuah teka-teki baru. Apakah ilmu kedokteran gigi belum lahir saat itu? Ataukah ada hal lain yang tidak bisa dikalahkan oleh kekayaan dan kekuasaan seorang firaun? Mari kita tempatkan diri kita pada posisi mereka sejenak. Secara psikologis, rasa sakit kronis itu mengubah kepribadian. Sulit membayangkan seorang penguasa bisa membuat keputusan politik yang rasional saat gusinya membengkak penuh nanah. Ada sebuah gelar di istana Mesir Kuno yang disebut Wer-ibeh-senjw, yang terjemahan kasarnya adalah "Pemimpin Para Dokter Gigi Raya". Kehadiran gelar ini membuktikan bahwa mereka mencoba mengobati masalah tersebut. Mereka punya dokternya. Lalu, apa yang sebenarnya masuk ke dalam mulut firaun setiap hari sampai dokter terhebat pun angkat tangan? Misterinya ternyata bukan terletak pada kutukan dewa, melainkan bersembunyi di meja makan kerajaan.

IV

Inilah realita sains yang menakjubkan sekaligus mengerikan. Biang kerok dari hancurnya gigi para mumi agung ini adalah roti. Ya, roti yang menjadi makanan pokok Mesir Kuno. Masalahnya bukan pada karbohidratnya, melainkan pada proses pembuatannya. Gandum pada masa itu digiling menggunakan batu gilingan kasar. Akibatnya, serpihan batu, debu silika, dan pasir gurun yang berterbangan selalu ikut tercampur ke dalam adonan. Saat firaun mengunyah roti lezatnya, pasir-pasir mikroskopis ini bertindak seperti ampelas. Secara ilmiah, proses ini disebut atrisi gigi (dental attrition). Enamel, lapisan terkeras pada tubuh manusia, perlahan habis terkikis hingga mengekspos bagian pulpa yang penuh saraf. Saat pulpa terbuka, bakteri masuk. Terjadilah abses atau kantung nanah raksasa di gusi yang perlahan memakan tulang rahang. Karena antibiotik belum ditemukan, infeksi ini bisa menyebar ke aliran darah dan memicu sepsis. Ilmu kedokteran mereka lumpuh menghadapi fisika dasar dari pasir yang menggesek gigi setiap hari, dipadukan dengan biologi bakteri yang merajalela. Obat yang mereka miliki hanyalah pasta pereda nyeri dari madu dan tumbuhan, yang tragisnya, justru menambah gula sebagai makanan bagi bakteri tersebut.

V

Kisah tentang gigi mumi ini mengajarkan kita satu hal penting tentang sejarah dan kemanusiaan. Sepintar atau sekaya apa pun sebuah peradaban, kita tidak akan pernah bisa melompati hukum alam dan biologi dasar tubuh kita. Ketika kita duduk di kursi dokter gigi modern saat ini, dibius lokal, dan gigi kita ditambal dengan komposit mutakhir, kita sedang menikmati kemewahan medis yang bahkan tidak bisa dibeli oleh seluruh emas milik firaun. Penguasa Mesir yang menganggap dirinya dewa itu, pada akhirnya, hanyalah manusia biasa yang rentan terhadap sebutir pasir dan bakteri kecil. Pemikiran kritis ini membuat saya merasa jauh lebih berempati pada sejarah. Di balik topeng emas Tutankhamun atau patung raksasa Ramses, ada kisah manusiawi tentang rasa sakit, ketidakberdayaan, dan perjuangan bertahan hidup. Jadi teman-teman, malam ini jangan lupa sikat gigi, ya. Kita lebih beruntung dari firaun.